Aku selalu suka Musim Gugur. Angin
yang berhembus membuatku tenang. Dingin memang tapi tidak masalah buatku. Ibuku
selalu memarahiku jika melihatku berdiri diluar tanpa mengenakan jaket. Seperti
sekarang. Aku tahu ia mencemaskanku, tapi kali ini biarkan aku melakukannya.
Karena mungkin aku tidak lagi dapat menemui Musim Gugur. Tidak, bukan seperti
yang kau pikirkan. Aku hanya pergi ke negara yang tidak ada musim Gugurnya,
negara tropis. Dan hanya sekitar 3 tahun.
Terdengar bunyi nyaring suara Hyde
dari saku celana-ku.
Ah ibu.
“Nee
okaa-san1?” ucapku sambil masuk kedalam perpusatakaan. Aku tidak
ingin ia memarahiku. Siapa tahu ia sedang melihatku di luar sana tetapi aku
tidak melihatnya.
“Mou
kusuri o katte2, Haruko?” alisku mengerut. Aku lupa harus ke
apotik.
“Ah,
wasureta. Mou sugu katte okaa-san.3” aku segera mengambil
jaketku di tempat penitipan.
“Kau ini bagaimana? Ibu kan sudah
bilang kau jangan lupa beli obat untuk adikmu. Ini sudah waktunya Ayumi minum
obat, kau tahu. Cepatlah beli dan segera pulang.”
“Hai4.”
Jawabku sekenanya. Ibu memutus sambungannya ketika aku menyebrang jalan.
Aku suka Musim Gugur. Tapi aku benci namaku.
Anak musim semi. Ha. Yang benar saja.
Aku bahkan tidak lahir di musim itu.
Aku lahir di musim dingin. Harusnya namaku Fuyuko
(anak Musim Dingin) saja sekalian. Konyol.
“Haruko!” alisku mengerut lagi. Setiap
mendengar namaku dipanggil alisku mengerut secara alami. Semacam kontak dengan
perasaanku sebenarnya. Dan aku menyukainya.
Eri berlari kecil menghampiriku. Dia
temanku tetapi menjengkelkan.
“Doko
e ikuno5 Haruko?” ini yang kusebut menjengkelkan. Ia tahu aku tidak
suka namaku, tapi ia tetap memanggilku seperti itu. Dan sekali lagi alisku mengerut.
“Bukan urusanmu.”
“Hei, ayolah Kiko. Jangan mengerut
seperti itu dan jawab pertanyaanku.” Aku tersenyum. Kadang aku merasa ia hebat.
Ini lucu bagaimana ia membuatku kesal lalu detik berikutnya ia membuatku
senang.
Kiko dari Akiko. Anak Musim Gugur.
Nama itu ia berikan ketika aku berdebat dengannya masalah namaku. Ia bilang
‘namamu ya namamu. Aku memanggilmu begitu karena memang itu namamu.’ Lalu aku
memberi tahunya bahwa aku bahkan tidak lahir pada musim Semi. Dan ia tahu betul
bagaimana membuatku senang.
“Aku mau ke apotik. Beli obat untuk
adikku.” Jawabku masih dengan senyuman di bibirku.
“Hee? Ayumi sakit?” kami berbelok ke
arah gang menuju apotik.
“Un, flu.”
“Kenapa tidak menelponku? Lalu kau
sendiri tidak flu ‘kan?” terkadang aku lupa bahwa ia adalah dokter. Dan ia
melaksanakan tugasnya dengan sangat baik, melihat apa yang ia lakukan padaku
sekarang. Aku hanya melihatnya tanpa ekspresi. Demi Tuhan ini masih di luar.
“Kau mau sampai kapan melakukan
pemeriksaan dadakan?” tanyaku datar.
“Ah, gomen” aku tak tahan untuk
memutar bola mataku.
“Kau mau mampir ke rumah? Siapa tahu
Ayumi senang melihatmu dan segera sembuh” ajakku ketika selesai membayar di
kasir. Ayumi memang sangat menyukai Eri. Aku juga tidak tahu alasannya.
“Sebenarnya ingin, tapi aku masih
harus ke rumah sakit, seorang pasien membutukanku.” Ucapnya setelah membaca
pesan dari perawat disana. Aku mendesah. Sebenarnya aku sudah lama ingin
ngobrol dengannya, namun waktu kami selalu tidak cocok.
“Ya sudah lah. Daripada nanti aku
dituduh telah membunuh orang dengan mencegat seorang dokter, lebih baik aku
segera pulang.” Ujarku sambil tersenyum.
Setelah berpisah dari Eri, aku
langsung menuju stasiun. Aku harus cepat. Dari sini menuju rumah kira-kira 15
menit. Semoga Ayumi tidak terlalu lama menungguku.
Ketika hendak memasukkan koin ke
vending machine tiba-tiba terdengar suara Hyde menyanyikan Link dengan nyaring.
Ketika melihat nama yang tertera di layar ponselku, buru-buru aku memasukkan
koin dan segera mengangkat telepon dari ibu sebelum ibu keluar dari ponselku
–yah itu memang tidak mungkin.
“Moshi-moshi Hika-chan.” Suara itu...
Aku harus menahan diri untuk tidak
teriak dan memaki-maki di tempat umum. Orang itu.... orang itu benar-benar...
aku menarik nafas dalam-dalam dan berusaha berbicara dengan tenang.
“Sedang apa kau dirumahku?” tapi yang
keluar dari mulutku malah nada yang terdengar kacau. Antara marah, kesal, dan
rindu.
²¯
oke segitu dulu hehe..
hmmm, klo ada yg ga ngerti vocabnya tanyakan saja di comment hhoho ^^
