Narumin ♥

Narumin ♥

2013/03/19

don't know yet

ehemm.. this is my first time I post my writing.. hmm,, I hope you all will enjoy it ^^


Aku selalu suka Musim Gugur. Angin yang berhembus membuatku tenang. Dingin memang tapi tidak masalah buatku. Ibuku selalu memarahiku jika melihatku berdiri diluar tanpa mengenakan jaket. Seperti sekarang. Aku tahu ia mencemaskanku, tapi kali ini biarkan aku melakukannya. Karena mungkin aku tidak lagi dapat menemui Musim Gugur. Tidak, bukan seperti yang kau pikirkan. Aku hanya pergi ke negara yang tidak ada musim Gugurnya, negara tropis. Dan hanya sekitar 3 tahun.
Terdengar bunyi nyaring suara Hyde dari saku celana-ku.
Ah ibu.
Nee okaa-san1?” ucapku sambil masuk kedalam perpusatakaan. Aku tidak ingin ia memarahiku. Siapa tahu ia sedang melihatku di luar sana tetapi aku tidak melihatnya.
Mou kusuri o katte2, Haruko?” alisku mengerut. Aku lupa harus ke apotik.
Ah, wasureta. Mou sugu katte okaa-san.3” aku segera mengambil jaketku di tempat penitipan.
“Kau ini bagaimana? Ibu kan sudah bilang kau jangan lupa beli obat untuk adikmu. Ini sudah waktunya Ayumi minum obat, kau tahu. Cepatlah beli dan segera pulang.”
Hai4.” Jawabku sekenanya. Ibu memutus sambungannya ketika aku menyebrang jalan.
Aku suka Musim Gugur. Tapi aku benci namaku.
Anak musim semi. Ha. Yang benar saja.
Aku bahkan tidak lahir di musim itu. Aku lahir di musim dingin. Harusnya namaku Fuyuko (anak Musim Dingin) saja sekalian. Konyol.
“Haruko!” alisku mengerut lagi. Setiap mendengar namaku dipanggil alisku mengerut secara alami. Semacam kontak dengan perasaanku sebenarnya. Dan aku menyukainya.
Eri berlari kecil menghampiriku. Dia temanku tetapi menjengkelkan.
Doko e ikuno5 Haruko?” ini yang kusebut menjengkelkan. Ia tahu aku tidak suka namaku, tapi ia tetap memanggilku seperti itu.  Dan sekali lagi alisku mengerut.
“Bukan urusanmu.”
“Hei, ayolah Kiko. Jangan mengerut seperti itu dan jawab pertanyaanku.” Aku tersenyum. Kadang aku merasa ia hebat. Ini lucu bagaimana ia membuatku kesal lalu detik berikutnya ia membuatku senang.
Kiko dari Akiko. Anak Musim Gugur. Nama itu ia berikan ketika aku berdebat dengannya masalah namaku. Ia bilang ‘namamu ya namamu. Aku memanggilmu begitu karena memang itu namamu.’ Lalu aku memberi tahunya bahwa aku bahkan tidak lahir pada musim Semi. Dan ia tahu betul bagaimana membuatku senang.
“Aku mau ke apotik. Beli obat untuk adikku.” Jawabku masih dengan senyuman di bibirku.
“Hee? Ayumi sakit?” kami berbelok ke arah gang menuju apotik.
“Un, flu.”
“Kenapa tidak menelponku? Lalu kau sendiri tidak flu ‘kan?” terkadang aku lupa bahwa ia adalah dokter. Dan ia melaksanakan tugasnya dengan sangat baik, melihat apa yang ia lakukan padaku sekarang. Aku hanya melihatnya tanpa ekspresi. Demi Tuhan ini masih di luar.
“Kau mau sampai kapan melakukan pemeriksaan dadakan?” tanyaku datar.
“Ah, gomen” aku tak tahan untuk memutar bola mataku.
“Kau mau mampir ke rumah? Siapa tahu Ayumi senang melihatmu dan segera sembuh” ajakku ketika selesai membayar di kasir. Ayumi memang sangat menyukai Eri. Aku juga tidak tahu alasannya.
“Sebenarnya ingin, tapi aku masih harus ke rumah sakit, seorang pasien membutukanku.” Ucapnya setelah membaca pesan dari perawat disana. Aku mendesah. Sebenarnya aku sudah lama ingin ngobrol dengannya, namun waktu kami selalu tidak cocok.
“Ya sudah lah. Daripada nanti aku dituduh telah membunuh orang dengan mencegat seorang dokter, lebih baik aku segera pulang.” Ujarku sambil tersenyum.
Setelah berpisah dari Eri, aku langsung menuju stasiun. Aku harus cepat. Dari sini menuju rumah kira-kira 15 menit. Semoga Ayumi tidak terlalu lama menungguku.
Ketika hendak memasukkan koin ke vending machine tiba-tiba terdengar suara Hyde menyanyikan Link dengan nyaring. Ketika melihat nama yang tertera di layar ponselku, buru-buru aku memasukkan koin dan segera mengangkat telepon dari ibu sebelum ibu keluar dari ponselku –yah itu memang tidak mungkin.
“Moshi-moshi Hika-chan.” Suara itu...
Aku harus menahan diri untuk tidak teriak dan memaki-maki di tempat umum. Orang itu.... orang itu benar-benar... aku menarik nafas dalam-dalam dan berusaha berbicara dengan tenang.
“Sedang apa kau dirumahku?” tapi yang keluar dari mulutku malah nada yang terdengar kacau. Antara marah, kesal, dan rindu.
²¯

oke segitu dulu hehe..
hmmm, klo ada yg ga ngerti vocabnya tanyakan saja di comment hhoho ^^